Dalam berkomunikasi, bagian yang terpenting adalah kita. Siapa diri kita, bagaimana kita dapat mempengaruhi cara berkomunikasi dan bagaimana kita bereaksi terhadap yang lain. Berikut ini merupakan pembahasan mengenai dimensi diri, yaitu: konsep diri, kesadaran diri, dan penghargaan diri:
Dimensi Diri (Self Dimention), terdiri dari:
1. Konsep Diri (Self Concept)
Self Concept merupakan cara bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Hal ini terdiri dari perasaan dan pemikiran tentang kelebihan, kelemahan, kemampuan, keterbatasan, aspirasi, dan cara pandang terhadap realitas (wordview).
Pengembangan Konsep Diri:
a. Kesan Orang Lain terhadap Diri Anda (Other’s Image of You)
Menurut Charles Horton Cooley, kita memandang diri kita melalui tanggapan dari orang lain terhadap kita dengan cara mereka berkomunikasi terhadap kita. Diri seseorang yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain disebut Cooley sebagai looking-glass self. Looking-glass self terbentuk melalui 3 tahap:
1) Seseorang membayangkan bagaimana perilaku atau tindakannya tampak bagi orang lain.
2) Seseorang membayangkan bagaimana orang lain menilai perilaku atau tindakan tersebut.
3) Seseorang membangun konsepsi tentang dirinya berdasarkan asumsi penilaian orang lain terhadap dirinya itu.
Contoh: Siswa beberapa kali mendapatkan nilai kurang untuk mata pelajaran matematika. Gurunya memarahinya. Karena peristiwa tersebut, ia merasa gurunya menganggap ia bodoh. Anggapan itu mempengaruhi pandangan siswa tersebut terhadap dirinya sendiri.
Pengembangan ini tidak ditujukan untuk semua orang, namun lebih khusus yaitu orang-orang tertentu yang dekat dalam hidup kita. Orang-orang tersebut antara lain keluarga, teman, atau kekasih. Jika orang khusus tersebut berpikir tinggi terhadap kita, maka kita akan melihat konsep diri yang positif dari bagaimana mereka berperilaku terhadap kita. Sebaliknya, jika mereka berpikir negatif terhadap kita, maka kita akan melihat konsep negatif tersebut pula.
b. Pembanding Sosial (Social Comparisons)
Cara lain untuk mengembangkan konsep diri adalah membandingkan diri dengan orang lain: mengikutsertakan diri dengan pembanding sosial, seringnya adalah teman sebaya. Contoh: Setelah melakukan presentasi di depan kelas, pasti kita ingin mengetahui bagaimana perform kita dibandingkan dengan perform mahasiswa lain. Hal ini membuat kita mengerti seberapa efektifkah presentasi yang telah kita lakukan.
c. Pengajaran Budaya (Cultural Teaching)
Dalam diri kita terdapat berbagai macam keyakinan, nilai, dan sikap. Hal ini kita dapat melalui orang tua, guru, dan media. Pengajaran ini memberikan patokan untuk mengukur diri kita.
Dalam pengajaran budaya, aturan genderI juga penting dalam pengembangan konsep diri. Hal ini mengenai cara bagaimana seorang pria dan wanita harus berperilaku. Budaya maskulin mensosialisasikan bahwa pria harus assertif, ambisius, dan kompetitif. Sedangkan wanita lebih sederhana dan menekankan pada komunikasi interpersonal.
d. Interpretasi Diri dan Evaluasi Diri (Self-Interpretations and Self-Evaluations)
Kita juga bereaksi terhadap perilaku kita sendiri. Contoh: Kita percaya bahwa mengucapkan mengumpat merupakan hal yang salah. Ketika kita mengumpat, kita akan mengevaluasi diri dan bereaksi negatif terhadap tindakan kita. Kita akan merasa bersalah.
Semakin kita memahami mengapa kita memandang hal seperti itu, semakin baik kita akan memahami diri kita.
2. Kesadaran Diri (Self Awaraness)
Kesadaran diri merupakan dasar dari semua komunikasi. Hal ini meliputi, pengetahuan dan pengertian mendalam terhadap diri kita. Salah satu cara untuk mengetahui hal tersebut adalah melalui, Johari Window (Joseph Luft – Harry Ingham), yaitu membagi pemahaman kesadaran diri dalam empat kuadran yang masing-masingnya berisi karakteristik pemahaman diri (self) yang berbeda-beda. Empat bagian tersebut adalah:
a. The Open Self (Daerah Terbuka)
Daerah terbuka mewakili semua informasi, perilaku, sikap, perasaan, keinginan, motivasi, gagasan yang diketahui oleh diri sendiri dan oleh orang lain. Hal ini meliputi nama, warna kulit, jenis kelamin, usia, keyakinan politik, agama. Ukuran daerah terbuka berbeda tergantung pada kepribadian kita dan orang-orang yang berhubungan dengan kita. Kebanyakan
kita, membuka diri kepada orang tertentu tentang hal tertentu pada waktu
tertentu. Joseph Luft: makin kecil kuadran ini, makin buruk komunikasi. Komunikasi bergantung pada sejauh mana kita membuka diri kepada orang lain dan kepada diri kita.
b. The Blind Self (Daerah Buta)
Berisi informasi tentang diri kita yang diketahui orang lain tetapi kita sendiri tidak mengetahuinya. Berupa kebiasaan-kebiasaan kecil, pengalaman terpendam, kekurangan/kekeliruan diri. Contoh: Kebiasaan memotong kalimat orang lain. Seringkali kita tidak sadar jika kita telah dan bahkan 'sering' melakukannya.
Terdapat beragam orang: mengira tahu akan dirinya sepenuhnya , cemas dengan ketidaktahuan akan dirinya, pura-pura ingin tahu (namun tetap: defensif/bela diri) , benar-benar tidak tahu tentang dirinya.
Daerah buta yang besar mengindikasikan kesadaran diri yang rendah dan mengganggu keakuratan komunikasi kita. Oleh karena itu, kurangi blind self , belajar apa yang orang lain ketahui tentang kita (mendengar)
c. The Hidden Self (Daerah Tertutup)
Berisi semua hal yang kita ketahui tentang diri kita dan orang lain namun kita simpan hanya untuk diri kita sendiri (rahasia pribadi). Hal ini meliputi mimpi, fantasi, pengalaman memalukan, sikap, keyakinan, atau nilai yang mungkin memalukan. Kita mungkin menjaga rahasia terhadap orang tertentu. Contoh: Si A tidak mengatakan pada orang tuanya bahwa dia berpacaran dengan orang yang berbeda agama, namun ia mengatakn hal tersebut kepada teman dekatnya.
Tipe orang:
1) Overdisclosures: terlalu terbuka (tidak ada rahasia yang dia tutupi tentang dirinya/orang lain sehingga menceritakan segalanya)
2) Underdisclosures: terlalu tertutup & tidak mau mengatakan apa-apa. Mau berbicara tentang diri orang lain namun tidak tentang dirinya.
Kebanyakan kita berada diantara kedua ekstrem ini. (terbuka yang selektif : selective disclosures)
d. The unknown Self (Daerah Gelap)
Berisi sebagian daerah yang tidak diketahui dari kita dan orang lain. Informasi ini ada dalam alam bawah sadar. Kadang-kadang area ini terungkap melalui hypnosis, mimpi, tes psikologi, atau psikoterapi. Cara lain untuk mengetahuinya adalah terbuka, jujur, dan memahami siapa yang kamu percaya.
3. Penghargaan Diri (Self Esteem)
Self esteem adalah nilai yang kita letakkan pada
diri kita. Hal ini berkenaan dengan tingkat
kepercayaan dan pengakuan diri anda. Tampak saat seseorang berkomunikasi
dengan orang lain, apakah mereka memiliki High self esteem – low self esteem.Misalnya: saat mengungkapkan ide
dengan menegakkan kepala, menjaga kontak mata dsb.
Tingkat pengaruh dan pola hubungan
seseorang dengan orang lain akan menunjukkan tingkat self esteem masing-masing. Semakin positif seseorang melihat dan
menilai dirinya semakin tinggi tingkat self esteem yang akan didapatkannya dari
orang lain.
